Selasa, 14 November 2017

Yang dimaksud dengan tauhid ini ialah mengesakan Allah Ta’ala pada seluruh nama dan sifat yang dimiliki-Nya. Tauhid ini mengandung dua rukun penting:
1. Penetapan, yang dimaksud adalah menetapkan bagi Allah Ta’ala seluruh nama dan sifat-Nya. Maka tidaklah kita menetapkan nama bagi Allah Ta’ala kecuali dengan nama yang Allah Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula tidaklah kita menetapkan sifat bagi Allah Ta’ala kecuali dengan sifat yang Allah Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2. Peniadaan, yang dimaksud adalah meniadakan dari Allah Ta’ala seluruh nama dan sifat yang telah ditiadakan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Termasuk di dalamnya, meniadakan semua penyerupaan dengan nama dan sifat Allah dengan nama dan sifat makhluk.
Barangsiapa tidak mau menetapkan bagi Allah Ta’ala sesuatu yang sudah Allah Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya berarti dia mu’aththil (seorang penolak) dan penolakannya serupa dengan penolakan Fir’aun. Sebab seorang yang tidak mau menetapkan nama dan sifat bagi Allah Ta’ala berarti dia telah meniadakan Allah Ta’ala sebagaimana Fir’aun yang tidak mengimani keberadaan Allah Ta’ala. Demikian pula barangsiapa yang mau menetapkan saja tapi dia menyerupakan nama dan sifat Allah tersebut dengan nama dan sifat makhluk berarti dia menyamai kaum musyrikin yang mengibadahi selain Allah Ta’ala. Sebab seorang yang menyerupakan nama dan sifat Allah Ta’ala dengan sesuatu yang ada pada makhluk, pada hakikatnya dia mengibadahi sesuatu selain Allah Ta’ala, karena Allah Ta’ala tidak sama dengan makhluk-Nya. Dan barangsiapa yang menetapkan sesuatu yang sudah Allah Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya tanpa menyerupakannya dengan makhluk maka berarti dia seorang muwahhid (seorang yang bertauhid).
Kedua rukun ini berlandaskan pada dalil syariat dan akal. Adapun dalil dari syariat, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala, “Hanya milik Allah nama-nama yang paling baik, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran mengenai nama-nama-Nya.” (Al-A’raf: 180) “Tak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)
Allah Ta’ala berfirman, “Maka janganlah kalian mengadakan penyerupaan-penyerupaan bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.” (An-Nahl: 74)
Sedangkan dalil dari logika yaitu kita mengatakan bahwa berbicara tentang nama dan sifat Allah Ta’ala termasuk pemberitaan yang tak mungkin akal kita mampu untuk mengetahui rinciannya tanpa tuntunan wahyu. Oleh karena itu, seharusnya kita mencukupkan diri dengan setiap yang diberitakan oleh wahyu saja dan tidak melampauinya.
Kemudian, di sini kita perlu menegaskan bahwa seluruh sifat yang Allah Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya merupakan sifat-sifat kesempurnaan. Allah Ta’ala lebih banyak menyebutkan nama-nama dan sifat-sifatNya secara rinci daripada mengglobalkannya. Itu karena bila pemberitaan dan kandungan-kandungan yang ditunjukkannya semakin banyak/rinci maka akan semakin nampak pula kesempurnaan zat yang mempunyai sifat-sifat tersebut. Oleh karena itu, sifat-sifat yang telah Allah Ta’ala tetapkan bagi diri-Nya lebih banyak diberitakan daripada sifat-sifat yang ditiadakan oleh Allah Ta’ala dari diri-Nya.
Adapun seluruh sifat yang telah ditiadakan oleh Allah Ta’ala dari diri-Nya merupakan sifat-sifat kekurangan yang tidak pantas bagi Dzat-Nya, seperti sifat kelemahan, letih, aniaya, dan sifat menyerupai para makhluk. Kebanyakan sifat ini disebutkan secara global, sebab hal itu lebih sesuai dalam mengagungkan zat yang disifatkan dan lebih sempurna dalam menyucikannya dari sifat kurang. Sedangkan penyebutan sifat-sifat (yang ditiadakan) itu secara rinci tanpa alasan, bisa menjadi berubah menjadi ejekan dan pelecehan terhadap zat yang disifati.
Jika anda memuji seorang raja dengan mengatakan kepadanya, “Anda adalah seorang yang dermawan, pemberani, teguh, memiliki hukum yang kuat, perkasa atas musuh-musuhmu” dan sifat-sifat terpuji lainnya, sungguh hal ini termasuk sanjungan yang sangat besar terhadapnya. Demikian pula jika anda mengatakan kepadanya, “Anda adalah seorang raja yang tak bisa disamai oleh seorang pun dari raja-raja dunia yang berada di masamu,” sungguh hal ini juga merupakan sanjungan yang bernilai lebih, karena anda telah mengglobalkan sifat-sifat yang ditiadakan darinya.
Tapi jika anda mengatakan kepadanya, “Engkau adalah seorang raja yang tidak pelit, tidak penakut, tidak faqir, dan engkau bukan seorang penjual sayur, bukan seorang tukang sapu, bukan dokter hewan, dan bukan tukang bekam,” dan rincian-rincian yang semacam itu dalam meniadakan segala aib yang tidak pantas bagi kemuliaannya, sungguh hal ini akan dianggap sebagai ejekan dan pelecehan terhadapnya.
Kemudian, walaupun sifat-sifat yang ditiadakan oleh Allah Ta’ala dari Zat-Nya kebanyakannya disebutkan secara global, namun terkadang Allah Ta’ala menyebutkannya secara rinci karena beberapa sebab:
1. Untuk meniadakan sesuatu yang diklaim oleh para pendusta terhadap hak Allah Ta’ala. Sebagaimana dalam firman-Nya, “Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi beserta-Nya.” (Al-Mu`minun: 91) Ini tatkala sebagian orang kafir ada yang menetapkan bahwa Allah mempunyai anak
2. Untuk menepis anggapan akan adanya suatu kekurangan pada kesempurnaan Allah Ta’ala. Sebagaimana dalam firman-Nya, “Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam hari, dan tidaklah sedikitpun kami ditimpa keletihan.” (Qaf: 38)
Tatkala Allah Ta’ala menciptakan ketujuh langit dan bumi hanya dalam waktu enam hari, mungkin akan terbetik dalam pikiran sebagian orang bahwa Allah akan mengalami keletihan. Maka Allah segera menepis sangkaan jelek tersebut dengan firman-Nya di atas.
Adapun perincian nama-nama dan sifat-sifat Allah, maka berikut sebagian di antara dalil-dalilNya, “Dialah Allah yang tiada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang tiada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, yang Maha Memiliki, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang Maha Sombong. Maha Suci Allah dari segala yang mereka persekutukan. Dialah Allah yang Maha Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai nama-nama yang baik. Seluruh yang di langit dan bumi bertasbih kepada-Nya. Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Hasyr: 22-24)
Ayat-ayat ini mengandung lebih dari 15 nama, dan setiap nama paling minimal mengandung satu sifat atau lebih.
Adapun dalil-dalil bahwa Allah meniadakan sifat-sifat kurang dari-Nya secara global, maka berikut di antaranya firman Allah Ta’ala, “Tak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya.” (QS. Asy-Syura: 11) juga firman-Nya,“Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS. Maryam: 65) dan firman-Nya, “Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (Al-Ikhlash: 4)
Di sini ada satu poin penting yang harus diperhatikan, yaitu: Bahwa tatkala kita meniadakan adanya keserupaan antara nama dan sifat Allah dengan nama dan sifat para makhluk, maka yang dimaksudkan di sini adalah meniadakan keserupaan secara sempurna dan menyeluruh antara nama dan sifat Allah dengan nama dan sifat makhluk. Artinya, kalau ada keserupaan antara nama dan sifat Allah dengan nama dan sifat makhluk tapi keserupaan ini tidak sempurna/menyeluruh, akan tetapi hanya pada satu sisi -yaitu sekedar kesamaan lafazh dan makna dasar (bukan makna menyeluruh)-, maka ini tidak bertentangan dengan rukun peniadaan yang telah kita terangkan di atas.
Jadi, adanya kesamaan lafazh dan makna dasar antara nama dan sifat Allah dengan nama dan sifat makhluk, tidaklah menunjukkan baha Allah serupa dengan makhluk dan demikian pula sebaliknya. Hal ini bisa dibuktikan melalui dalil-dalil syariat, logika, dan panca indera.
1. Bukti dari dalil yang syar’i di antaranya, bahwasanya Allah Ta’ala telah berfirman tentang Zat-Nya:
“Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (An-Nisa`: 58)
Di dalam ayat ini, Allah Ta’ala menetapkan bahwa Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Sementara di dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala menetapkan bahwa manusia juga mendengar dan melihat. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan). Karena itu Kami jadikan dia seorang yang mendengar dan melihat.” (Al-Insan: 2)
Maka pada kedua ayat ini, walaupun Allah menetapkan bahwa manusia mempunyai sifat mendengar dan melihat sebagaimana juga Allah memiliki kedua sifat tersebut, namun tentunya pendengaran dan penglihatan Allah Ta’ala tidaklah sama dengan pendengaran dan penglihatan manusia walaupun sama-sama disebutkan mempunya nama dan sifat mendengar dan melihat.
2. Bukti dari dalil yang logis, yaitu bahwa sebuah sifat yang sama itu terkait dan berbeda sesuai dengan siapa yang memiliki sifat tersebut. Bila beberapa perkara itu berbeda dari sisi dzat, maka pastilah beberapa perkara tersebut berbeda pula dari sisi sifatnya. Sebagai contoh, kita menyifati manusia dan juga menyifati harimau dengan satu sifat yang sama, yaitu keberanian, padahal kita mengetahui bahwa jenis keberanian antara keduanya jelas berbeda karena zat yang memiliki sifat tersebut (manusia dan harimau) juga berbeda.
3. Adapun bukti dari dalil secara panca indera, yaitu bahwasanya kita menyaksikan gajah memiliki fisik, kaki, serta kekuatan dan nyamuk juga memiliki fisik, kaki, serta kekuatan. Di sini tentunya kita mengetahui perbedaan antara fisik, kaki, serta kekuatan keduanya.
Jika kita sudah mengetahui bahwa kesamaan dalam nama dan sifat di antara para makhluk tidaklah melazimkan kesamaan dalam bentuk zat dan hakikatnya, padahal mereka adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah Ta’ala. Maka tidak adanya keserupaan antara Dzat yang Maha pencipta dengan makhluk ciptaan-Nya dalam hakikat nama dan sifat tentu lebih utama dan lebih jelas. Bahkan kesamaan antara Dzat Yang Maha Pencipta dan makhluk ciptaan-Nya dalam perkara nama dan sifat adalah sesuatu yang amat sangat tidak mungkin terjadi. Wallahu a’lam bish-shawab.


Al-atsariyah.com
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam yang menjanjikan kebahagiaan di surga bagi orang-orang yang bertakwa dan kesengsaraan di neraka bagi orang-orang yang kufur lagi durhaka. Shalawat dan salam kepada Nabi akhir zaman, sebagai penutup para Nabi dan panutan dalam meniti jalan yang lurus, begitu pula kepada keluarga dan para sahabatnya.
Allah Ta’ala berfirman,
فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ (106) خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ (107) وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ (108)
“Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih), mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (QS. Huud: 106-108)
Jika kita melihat ayat di atas, seakan-akan ada yang ganjil. Allah mengisyaratkan surga dan neraka itu ada selama bumi dan langit itu ada. Dari sini bisa diyakini bahwa surga dan neraka itu tidak kekal. Ayat inilah yang menjadi dasar keyakinan Ir. Agus Mustofa (Penulis Buku Tasawuf Modern) dalam bukunya “Ternyata Akhirat Tidak Kekal”[1]. Berikut kami cuplik sedikit perkataan beliau dalam buku tersebut setelah beliau membawakan surat Huud ayat 106-108:
“Ayat di atas bercerita tentang keadaan penduduk neraka dan penduduk surga. Dikatakan oleh Allah, bahwa mereka itu akan kekal di dalam surga atau neraka selama ada langit dan bumi.
Informasi ini, sungguh sangat menggelitik logika kita. Kenapa demikian? Sebab ternyata kekekalan surga dan neraka itu –menurut ayat ini- tergantung pada kondisi lainnya, yaitu keberadaan langit dan bumi alias alam semesta.
Dengan kata lain, akhirat itu akan kekal jika langit dan bumi atau alam semesta ini juga kekal. Sehingga, kalau suatu ketika alam semesta ini mengalami kehancuran, maka alam akhirat juga bakal mengalami hal yang sama, kehancuran.
Tentu, hal ini membuat kita agak shock. Sebab ini telah menggoyang apa yang sudah kita pahami selama ini. Bahwa yang namanya akhirat itu adalah alam baka. Alam yang kekal abadi, dan tidak akan pernah mengalami kiamat lagi. Dan itu telah dikatakan berulang-ulang dalam Al Qur’an.
Akan tetapi, apakah kita tidak percaya kepada firman Allah di atas, bahwa Surga dan Neraka itu kekalnya adalah sekekal langit dan bumi? Tentu saja, kita juga nggak berani untuk tidak percaya, sebab kalimat-kalimat di atas demikian gamblangnya: Khaalidiina fiiha maadaamatis samaawaati wal ardhi … (kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi …) ” (hal. 234)
Demikian sedikit nukilan dari perkataan beliau, yang kesimpulannya sesuai judul bukunya yaitu akhirat itu tidaklah kekal. Kami sangat tergelitik sekali ingin menyanggah pernyataan beliau di atas dengan merujuk pada pakar tafsir terkemuka. Yang tentunya ilmu ulama tafsir sudah pasti lebih terpercaya. Semoga Allah memudahkan untuk menyelesaikan tulisan ini karena ingin mengharapkan wajah-Nya yang mulia.
3 Hal yang Mesti Diyakini Mengenai Surga dan Neraka
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Al Hafizh Al Hakami rahimahullah, keyakinan terhadap surga dan neraka yang mesti diyakini adalah 3 hal. Beliau sebut dalam bait syairnya,
والنَّارُ وَالجَنَّةُ حَقٌّ وَهُمَا … مَوْجُوْدَتَانِ لاَ فَنَاءَ لَهُمَا
“Neraka dan surga adalah benar adanya. Keduanya telah ada saat ini. Dan keduanya tidaklah fana.”
Berikut sedikit uraiannya.[2]
Pertama: Surga dan neraka itu benar adanya, tidak ada keraguan sedikit pun tentangnya.
Di antara dalilnya,
وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ (131) وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (132) وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133)
“Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron: 131-133)
Kedua: Surga dan neraka sudah ada saat ini.
Tentang surga, Allah Ta’ala berfirman,
أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron: 133)
Tentang neraka, Allah Ta’ala berfirman,
أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ
“Yang telah disediakan untuk orang-orang kafir.” (QS. Ali Imron: 131). Jika dikatakan “telah disediakan”, berarti keduanya telah ada.
Dari Imron bin Hushain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اطَّلَعْتُ فِى الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ ، وَاطَّلَعْتُ فِى النَّارِ ، فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ
“Aku pernah melihat surga, lalu aku melihat bahwa kebanyakan penghuninya adalah orang-orang miskin. Aku pun pernah melihat neraka, lalu aku melihat kebanyakan penghuninya adalah para wanita.”[3]
Dari Ibnu ‘Abbas, Rofi’ bin Khudaij, ‘Aisyah dan Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْحُمَّى مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ ، فَأَبْرِدُوهَا بِالْمَاءِ
“Sakit demam berasal dari panasnya jahannam. Oleh karenanya, dinginkanlah demam tersebut dengan air.”[4]
Ketiga: Surga dan neraka itu kekal karena Allah yang menghendaki keduanya untuk kekal. Keduanya tidaklah fana. Banyak sekali dalil yang membicarakan hal ini, berikut kami sebutkan sebagiannya.
Tentang surga, Allah Ta’ala berfirman,
خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah: 100)
Tentang neraka, Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَظَلَمُوا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيقًا ,إِلَّا طَرِيقَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (QS. An Nisa’: 168-169)
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ ، وَ أَهْلُ النَّارِ النَّارَ ، ثُمَّ يَقُومُ مُؤَذِّنٌ بَيْنَهُمْ يَا أَهْلَ النَّارِ لاَ مَوْتَ ، وَيَا أَهْلَ الْجَنَّةِ لاَ مَوْتَ ، خُلُودٌ
“Jika penduduk surga telah memasuki surga dan penduduk neraka telah memasuki neraka, kemudian seseorang akan meneriaki di antara mereka, “Wahai penduduk neraka, tidak ada lagi kematian untuk kalian. Wahai penduduk surga, tidak ada lagi kematian untuk kalian. Kalian akan kekal di dalamnya.”[5]
Awal Sanggahan dari Mustofa Bisri
Buku “Ternyata Akhirat Tidak Kekal” sebenarnya sudah dikritisi lebih terlebih dulu oleh A. Mustofa Bisri. Berikut pemaparan beliau ketika memberikan pengantar untuk buku tersebut.
“Yang paling menarik tentu kesimpulan Agus Mustofa tentang ketidak-kekalan Akhirat, yang karenanya kemudian menjuduli bukunya dengan “Ternyata Akhirat Tidak Kekal” ini. Kesimpulannya itu antara lain didasarkan pada Q.S. 11 Hud: 107 dan 108, di mana -menurut pemahaman Agus- kekekalan mereka yang berbahagia di sorga maupun celaka di neraka digantungkan “kepada kondisi lainnya, yaitu keberadaan langit dan bumi alias alam semesta”.
Dengan kata lain, paparnya, “Akhirat itu akan kekal jika langit dan bumi atau alam semesta ini juga kekal. Sehingga kalau suatu ketika alam semesta ini mengalami kehancuran, maka alam akhirat juga bakal mengalami hal yang sama, kehancuran” (hal. 234). Pendapat ini diperkuat dengan kutipan Q.S. 28: Al Qashash: 88,
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ
“Tiap-tiap sesuatu itu pasti binasa kecuali ‘Wajah-Nya’”
Kesimpulan dan pendapat itu terjadi karena Agus Mustofa tidak mempertimbangkan atau mengabaikan tafsir-tafsir yang ada, khususnya mengenai kalimat:
مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ
Misalnya, tafsiran Ahli Tafsir yang menyatakan bahwa yang dimaksud “langit dan bumi” adalah langit dan bumi yang lain, berdasarkan QS. 14: 48
يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ
“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit.” … [6]
Demikian sebagian komentar dari Bapak Mustofa Bisri yang mengkritik pendapat kontroversial dari Agus Mustofa. Intinya, pendapat yang diutarakan oleh Agus Mustofa berseberangan dengan pendapat ahli tafsir dan para ulama yang tentu lebih memahami ayat tersebut. Mari kita simak penjelasan selanjutnya.
Merujuk Tafsiran Ulama
Pertama: Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Gholib Al Amili (Abu Ja’far Ath Thobari)
Mengenai ayat,
خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ
“Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi”, Ibnu Jarir Ath Thobari rahimahullah mengatakan, “Orang Arab biasanya jika ingin mensifatkan sesuatu itu kekal selamanya, maka mereka akan mengungkapkan dengan,
هذا دائم دوام السموات والأرض
“Ini kekal selama langit dan  bumi ada.” Namun maksud ungkapan ini adalah kekal selamanya.[7]
Kedua: Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al Qurosyi Ad Dimasyqi
Selain membawakan perkataan Ibnu Jarir Ath Thobari, Ibnu Katsir membawakan penafsiran lain. Beliau rahimahullah mengatakan, “Boleh jadi dipahami bahwa maksud ayat “selama langit dan bumi itu ada” adalah jenis langit dan bumi (maksudnya: langit dan bumi yang beda dengan saat ini, pen). Karena sudah pasti alam akhirat juga ada langit dan bumi (namun berbeda dengan saat ini, pen). Buktinya adalah firman Allah Ta’ala,
يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ
“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit.” (QS. Ibrahim: 48)
Oleh karena itu, Al Hasan Al Bashri menjelaskan mengenai firman Allah,
خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ
“Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi”, maksudnya adalah Allah mengganti langit berbeda dengan langit yang ada saat ini. Begitu pula Allah mengganti bumi berbeda dengan bumi yang ada saat ini. Langit dan bumi (yang berbeda dengan saat ini tadi, pen) pun akan terus ada.”
Ibnu Abi Hatim mengatakan bahwa Sufyan bin Husain menyebutkan dari Al Hakam, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas, beliau mengatakan mengenai firman Allah (yang artinya), “Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi,” yaitu setiap surga itu memiliki langit dan bumi.
‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menafsirkan, “Yaitu selama bumi itu menjadi bumi (yang berbeda dengan saat ini, pen) dan langit menjadi langit (yang berbeda dengan saat ini, pen).” –Demikian penjelasan Ibnu Katsir rahimahullah mengenai surat Huud ayat 107.[8]
Ketiga: Abu Muhammad Al Husain bin Mas’ud Al Baghowi
Al Baghowi menyatakan yang hampir sama dengan Ibnu Jarir Ath Thobari dan Ibnu Katsir. Al Baghowi mengatakan, “Mengenai ayat (yang artinya), “Mereka kekal di dalamnya” yaitu terus berada tinggal di dalamnya. Sedangkan ayat (yang artinya), “Selama langit dan bumi itu ada”, sebagaimana dikatakan oleh Adh Dhohak, “Selama langit dan bumi dari surga dan neraka itu ada. Karena segala sesuatu yang berada di atasmu dan menaungimu itulah langit. Sedangkan segala sesuatu sebagai tempat engkau berpijak itulah bumi. Begitu pula para pakar tafsir menjelaskan bahwa ungkapan dalam ayat tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan kekalnya sesuatu. Inilah ungkapan yang biasa disebutkan oleh orang Arab. Mereka biasa mengatakan, “Saya tidak akan mendatangimu selama langit dan bumi itu ada”. Atau mereka katakan, “… selama bergantinya malam dan siang”. Mereka maksudkan ini semua untuk mengungkapkan “selamanya”.”[9]
Keempat: Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Asy Syaukani
Tentang ayat (yang artinya), “Selama langit dan bumi itu ada,” Asy Syaukani menukil perkataan Ibnu ‘Abbas yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim, beliau mengatakan maksud ayat tadi, “Setiap surga memiliki langit dan bumi tersendiri.”[10]
Kelima: Mahmud bin ‘Amr bin Ahmad Az Zamakhsyari
Az Zamakhsyari menyatakan penafsiran yang sama dengan Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir. Jadi, makna ayat (yang artinya), “Selama langit dan bumi itu ada”, maksudnya: [1] Yang dimaksud adalah langit dan bumi di akhirat, keduanya itu abadi dan makhluk yang kekal, [2] ungkapan orang Arab yang ingin menyatakan sesuai itu kekal dan tidak ada ujung akhirnya.
Untuk maksud pertama ini, beliau membawakan dua ayat bahwa di akhirat itu ada langit dan bumi tersendiri. Ayat pertama, Allah Ta’ala berfirman,
يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ
“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit.” (QS. Ibrahim: 48)
Ayat kedua, Allah Ta’ala berfirman,
وَأَوْرَثَنَا الأرض نَتَبَوَّأُ مِنَ الجنة حَيْثُ نَشَاء
“Dan telah (memberi) kepada kami bumi (tempat) ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki.” (QS. Az Zumar: 74)[11]
Keenam: Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengungkapkan, “Sekelompok ulama menjelaskan mengenai firman Allah (yang artinya), “Selama langit dan bumi itu ada”, yaitu yang dimaksud adalah langit dari surga dan bumi dari surga. Sebagaimana disebutkan dalam Shahihain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian ingin meminta pada Allah, mintalah surga Firdaus. Firdaus adalah surga yang paling tinggi dan merupakan surga pilihan. Sedangkan atap (langit) dari surga tersebut adalah ‘Arsy Allah”. Begitu pula sebagian ulama ketika menjelaskan mengenai firman Allah,
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ
“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh.” (QS. Al Anbiya’: 105). Yang dimaksudkan di sini adalah bumi di surga. Oleh karena itu tidak bertentangan antara yang menyatakan langit akan terlipat (yaitu langit dunia, pen). Sedangkan langit yang tetap terus ada adalah langit (atap) dari surga. Oleh karena itu, yang mesti kita pahami adalah segala sesuatu yang berada di atas, maka ia disebut secara bahasa dengan langit (as samaa’). Sebagaimana pula hujan disebut dengan samaa’ (langit). Dan atap juga disebut dengan samaa’ (langit).”[12]
Ringkasnya, mengenai surat Huud ayat 107 dan 108, ada dua penafsiran:
Pertama: Yang dimaksud adalah langit dan bumi yang ada di akhirat nanti.
Kedua: Penyebutan “selama langit dan bumi itu ada” adalah ungkapan orang Arab yang ingin menyebutkan sesuatu itu kekal abadi.
Bandingkan tafsiran di atas ini dengan pemahamann penulis buku tersebut.
Kekeliruan Penulis Buku “Ternyata Akhirat Tidak Kekal”
Dari penjelasan ulama di atas, terlihat jelas bahwa surat Huud ayat 16-108 bukan memaksudkan akhirat itu tidak kekal sebagaimana yang disalahpahami oleh Agus Mustofa. Sudah jelaslah kekeliruan yang beliau utarakan dalam buku tersebut. Intinya, kekeliruan yang beliau lakukan disebabkan beberapa hal:
Pertama: Hanya bergantung pada logika yang dangkal
Setelah beranjak dari pemahaman keliru terhadap surat Huud ayat 107 dan 108, beliau pun mengemukakan argumen sains. Namun ini sudah beranjak dari pemikiran keliru terhadap ayat tadi dan dibangun di atas logika yang fasid (rusak). Yang namanya logika jika bertentangan dengan dalil, maka dalil yang mesti didahulukan karena logika tentu saja terbatas. Coba pahami baik-baik perkataan seorang alim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berikut ini.
“Bahkan akal adalah syarat untuk mengilmui sesuatu dan untuk beramal dengan baik dan sempurna. Akal pun akan menyempurnakan ilmu dan amal. Akan tetapi, akal tidaklah bisa berdiri sendiri. Akal bisa berfungsi jika dia memiliki instink dan kekuatan sebagaimana penglihatan mata bisa berfungsi jika ada cahaya. Apabila akal mendapati cahaya iman dan Al Qur’an barulah akal akan seperti mata yang mendapatkan cahaya mentari. Jika bersendirian tanpa cahaya, akal tidak akan bisa melihat atau mengetahui sesuatu.”[13]
Intinya, logika bisa berjalan dan berfungsi jika ditunjuki oleh dalil syar’i yaitu dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah. Tanpa cahaya ini, akal tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya. Sedangkan tentang surga dan neraka, betapa banyak ayat yang menunjukkan kekalnya. Pantaskah di sini akal mengalahkan dalil Al Qur’an dan As Sunnah? Logika barulah benar jika memang tidak berseberangan dengan wahyu.
Kedua: Tidak mau merujuk pada ulama
Inilah salah satu kekeliruannya lagi. Jarang sekali kami lihat dalam buku beliau yang menukil perkataan ulama atau mau merujuk pada mereka dalam menafsirkan ayat. Beliau kadang menafsirkannya sendiri sehingga bisa salah fatal semacam ini.
Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Umar bin ‘Abdul ‘Aziz,
مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ
”Barangsiapa beribadah pada Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkan lebih besar daripada perbaikan yang dilakukan.”[14]
Kita punya kewajiban jika tidak tahu tentang masalah agama termasuk pula dalam memahami ayat untuk bertanya pada orang berilmu. Allah Ta’ala berfirman,
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (QS. An Nahl: 43 dan Al Anbiya’: 7).
Ingatlah, obat dari kebodohan adalah dengan bertanya pada ahli ilmu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
شِفَاءُ الْعِىِّ السُّؤَالُ
“Obat dari kebodohan adalah dengan bertanya.”[15] Ketika membawakan hadits ini, Ibnu Qayyim Al Jauziyah mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut kebodohan dengan penyakit dan obatnya adalah dengan bertanya pada para ulama (yang berilmu).”[16]
Ketiga: Mengikut ayat mutasyabih (yang masih samar)
Sebelum menyebutkan pendapatnya pada halaman 234, sebenarnya Ir. Agus Mustofa sudah memaparkan ayat-ayat yang menunjukkan kekalnya surga dan neraka. Bahkan beliau sendiri katakan di hal. 232 dari bukunya, “Dan masih banyak lagi ayat tentang kekekalan Surga, Neraka, atau Akhirat itu. Tak kurang dari 110 ayat yang menggambarkan, betapa akhirat, surga dan neraka itu kekal.”
Namun ketika sampai pada hal. 234, setelah membawakan surat Huud ayat 106-108, beliau pun mengatakan, “Justru di sinilah kunci pemahamannya. Pertama, bahwa akhirat tersebut sesungguhnya memang tidak kekal. Akan tetapi, ketidakkekalan itu bukan berarti meringankan arti dari informasi-informasi sebelumnya yang mengatakan: Khaalidiina fiiha … (kekal di dalamnya …). Dan di ayat lainnya lagi seringkali ditambahkan kata ‘abada’ (abadi, selama-lamanya). Miliaran tahun! Karena kekal yang dimaksudkan tersebut memang bukan kekal yang tidak terbatas. Akhirat adalah makhluk. Karena itu ia pasti memiliki awal dan akhir.” Demikian perkataan beliau.
Semula ia katakan bahwa 110 ayat membicarakan kekekalan akhirat, namun ketika bertemu dengan surat Huud ayat 106-108, baru ia menjadi bingung. Lalu akhirnya ia simpulkan bahwa akhirat itu tidak kekal. Bagaimana mungkin hanya berpegang pada surat Huud lalu mengalahkan 110 ayat yang menyatakan kekekalan surga dan neraka?!
Thoriqoh (metode) orang-orang yang menyimpang memang seperti ini. Kebiasaannya adalah selalu mempertentangkan ayat yang satu dan lainnya. Atau kebiasaannya adalah berpegang pada ayat yang masih samar (baca: mutasyabih) dan meninggalkan ayat-ayat yang sudah jelas yaitu ayat muhkam. Seharusnya sikap yang tepat ketika seseorang menemukan ayat-ayat yang samar dan sulit baginya untuk memahaminya adalah ia pahami dan membawa ayat tersebut kepada ayat muhkam (yang sudah jelas maknanya). Bukan malah yang jadi pegangan adalah ayat mutasyabih yang masih samar.
Itulah yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala, ketika kita menemukan ayat masih samar, bawalah ayat tersebut kepada ayat yang sudah jelas maknanya agar kita tidak tersesat. Allah Ta’ala berfirman,
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آَيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imron: 7). Ayat-ayat yang muhkam (yang sudah jelas maknanya) dalam ayat ini disebut dengan ummul kitaab (induk kitab). Artinya, ayat-ayat muhkam inilah yang jadikan rujukan ketika bertemu dengan ayat-ayat yang masih samar bagi sebagian orang (mutasyabihaat).[17] Namun kecenderungan orang-orang yang sesat adalah biasa mengikuti ayat mutasyabih (yang masih samar).
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, yaitu keluar dari kebenaran menuju pada kebatilan, maka mereka mengikuti ayat yang masih mutasyabih (masih samar). Mereka mengambil ayat mutasyabih tersebut yang mampu mereka selewengkan sesuai maksud mereka yang keliru dan dijadikan sebagai pembela mereka karena makna yang masih bisa diselewengkan sesuka mereka. Adapun ayat-ayat yang muhkam (yang sudah jelas maknanya), seperti itu tidak dijadikan rujukan mereka. Mereka tidak mau berpegang pada ayat yang muhkam karena itu bisa menyangkal dan menjatuhkan pendapat mereka sendiri. ”[18]
Penutup
Inilah beberapa kekeliruan dasar penulis Agus Mustofa. Ditambah lagi pemahaman beliau yang berbau tasawuf dan filsafat, hal ini semakin menambah kelamnya buku “Ternyata Akhirat Tidak Kekal”.
Kami hanya mengingatkan, waspadalah terhadap buku-buku dan pemahaman beliau sebagaimana Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati kita agar waspada dengan orang-orang yang hanya mau berpegang pada ayat mutasyabih (yang masih samar) dan meninggalkan jauh-jauh ayat muhkam (yang sudah jelas maknanya).
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca surat Ali Imron ayat 7 di atas, lalu ‘Aisyah mengatakan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا رَأَيْتُمُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ
“Jika kalian melihat orang-orang yang sering mengikuti ayat-ayat yang mutasyabih (yang masih samar), maka merekalah yang Allah sebut (dalam surat Ali Imron ayat 7). Oleh karenanya, Waspadalah terhadap mereka.”[19]
Semoga Allah memberi taufik dan hidayah pada penulis buku tersebut. Semoga kaum muslimin yang lain dapat terhindar dari kekeliruan-kekeliruannya. Hanya Allah yang memberi taufik.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal
Diselesaikan di pagi hari di Panggang, GK, 21 Shofar 1431 H


[1] Buku yang ditulis oleh Agus Mustofa amatlah banyak,  semuanya bertajuk tasawuf modern. Buku “Ternyata Akhirat Tidak Kekal” ini telah sampai pada cetakan kesepuluh dan diterbitkan oleh PADMA Press.
[2] Kami sarikan dari Ma’arijul Qobul, Syaikh Hafizh bin Ahmad Al Hakami, 2/222-229, Darul Hadits, cetakan tahun 1420 H.
[3] HR. Bukhari no. 5198 dan Muslim no. 2737.
[4] HR. Bukhari dan Muslim.
[5] HR. Bukhari no. 6544 dan Muslim no. 2850.
[6] Lihat Ternyata Akhirat Tidak Kekal, Agus Mustofa, hal. xi-xii, PADMA press, cetakan kesepuluh, tahun 2006.
[7] Tafsir Ath Thobari (Jaami’ Al Bayan ‘an Ta’wilil Ayil Qur’an), Ibnu Jarir Ath Thobari, 12/578, Dar Hijr.
[8] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7/472, Muassasah Qurthubah.
[9] Ma’alimut Tanzil, Al Baghowi, 4/200, Dar Thoyibah, cetakan keempat, tahun 1417 H.
[10] Fathul Qodir, Asy Syaukani, 3/486, Mawqi’ At Tafaasir.
[11] Al Kasysyaf, Az Zamakhsyari, 3/124, Mawqi’ At Tafaasir.
[12] Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 15/109, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H.
[13] Majmu’ Al Fatawa, 3/338-339.
[14] Lihat Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 15, Mawqi’ Al Islam.
[15] HR. Abu Daud no. 336, Ibnu Majah no. 572 dan Ahmad (1/330). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shohih Al Jaami’ no. 4363.
[16] Ighotsatul Lahfaan min Mashoidisy Syaithon, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, 1/19, Darul Ma’rifah, cetakan kedua, tahun 1395 H
[17] Faedah dari penjelasan Ibnu Katsir ketika menjelaskan surat Ali Imron ayat 7. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3/7.
[18] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3/9.
[19] HR. Muslim no. 2665.

Follow kumpulan tanya jawab islam dan keluarga

Calendar holidays by Excel Calendar

Disclaimer

i don't own anything in this blog. all articles, images, videos belong to its owners / creator. if you think this useful feel free to share, rewrite, or copy
twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Info Harga Komoditi/Pangan

Flag Counter



Data Provided By Google Analytics

Diberdayakan oleh Blogger.

Mari gabung agar kenal & tidak terjerat riba/bunga bank

Bantuan hukum bagi yang terjerat riba (bunga bank)

Pencarian tentang Islam

yufid.com

[Disebutkan keadaan manusia di hari kiamat, "Alangkah baiknya kiranya aku dulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini". QS Al-Fajr : 24]'


Orang ini menyebut akhirat dengan HIDUPKU. Artinya, sekarang ini KEHIDUPAN KITA BELUM DIMULAI

(-_-)

Video Pilihan

Paling Banyak Dibaca

Our Facebook Page